RSS

Arsip Kategori: Review

Jika Gw Stress dengan Pekerjaan Gw

Iseng nulis, setelah melakukan iseng mikir. Dapet deh ide iseng ini, karena cuma iseng, jadi silakan dibalas iseng, tapi jangan tulisan gw ini dianalisis secara serius, apalagi bawa-bawa pakar telematika kenamaan kita itu, percuma hehehe…

Jadi beginih…

Gw berpikir bijimana n bijisiapa, eh bagaimana kalo misalnya gw bosan dengan pekerjaan gw yang sekarang. Tentunya gw harus mencari hal lain yang menarik untuk dikerjakan dan menarik sejumlah banyak duit dari rekening orang ke rekening gw kan? Nah, kira-kira celah usaha apa yang bakalan sukses untuk dikerjakan hari gini? Gw punya ide BRILLIANT yang kalo dikerjakan akan membuat sukses datang dalam waktu dekat…

Here’s my idea:

1. Saat ini banyak bangged band baru bermunculan di tanah air dan menuai sukses. KESIMPULAN NO. 1 –> Bikin band adalah jalan yang bagus menuju sukses.

2. Kalau memutuskan bikin band, harus dipilih juga aliran musik dan segmennya. Ternyata band yang laku sekarang aliran musiknya kebanyakan berirama melayu! KESIMPULAN NO. 2 –> Gw akan bikin band yang rada mendangdut!

3. Segmen? nah untuk urusan ini gw punya ide yang sangat-sangat BRILLIANT! Segmen yang akan kita garap adalah pasar anak kecil dan balita, sejak jamannya Joshua dan kawan-kawan, kayaknya sampe sekarang ini sangat jarang tuh perusahaan rekaman ngeluarin album anak-anak. KESIMPULAN No. 3 –> Segmen musik untuk anak-anak akan gw garap.

4. Realisasi (dalam mimpi):
Usaha band yang gw rintis ini nantinya akan sukses besar, karena anak kecil belum ngarti beli bajakan. Sekalian aja gw tambahin promo, kalo beli album asli dapat hadiah mainan, kayak jualan sepatu anak-anak yang berhadiah mainan, eh apa jualan mainan berhadiah sepatu anak-anak ya?

Selain penjualan album yang laris manis, penghasilan juga bakal gw dapat dari provider2 telekomunikasi, karena lagu-lagu gw pasti bakal laris juga didownload sebagai ringtone, atau dipake buat ringback tone.

Ini nih bagian yang paling penting n gw suka:

Bahkan, provider tukang odong-odong harus bayar royalti ke gw kalo mereka mau nyetel lagunya di setiap odong-odong operasional mereka…

Dan kemudian… lagu-lagu gw bakal berkibar di seluruh penjuru negeri, di televisi, di stasiun kereta (di tukang VCD bajakan), di bus-bus (ringtone hp-nya orang2), TERUTAMA di kampung-kampung lewat para laskar tukang odong-odong…

I love odong-odong 😀

Kenapa? ada yang heran dengan rencana gw? tolong dibaca lagi deh judul postingan ini huehehe

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Desember 2008 in Review

 

Penulisan Kata Depan dalam Bahasa Indonesia Masih Banyak yang Salah

Jangan salah sangka dulu, gw ga lagi mau nulis atau bahas tentang Bahasa Indonesia yang dipake sama Cinta Laura — yang memang dia akui masih sangat kurang, sampe merasa perlu kuliah di Australia buat memperbaikinya. Sarap!

Gw terinspirasi buat menulis ini, karena hal ini memang sudah sering sebenernya gw temuin. Tapi sebelumnya, i need to make a confession, gw mengakui, bahkan penulisan post ini tidak dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi bukan itu yang lagi pengen gw bahas. Gw cuma lagi pengen bahas soal aturan penggunaan kata depan dan imbuhan, khususnya untuk kata depan ‘di‘ dan imbuhan ‘di-‘.

Trigger utamanya adalah saat tadi pagi gw seperti biasa menaiki KRL Ekonomi AC Depok – Tanah Abang guna menuju kantor. Di setiap pintu terdapat stiker yang bertuliskan ‘Dilarang bersandar dipintu automatic‘. Bukan, bukan soal pencampuran antara penggunaan Bahasa Indonesia dengan sebuah kata dari Bahasa Inggris yang gw permasalahkan. Hal seperti itu lumrah buat gw — meskipun sebenernya udah ada kata serapannya, automatic –> otomatis. Tapi perhatikan kata ‘dipintu‘. Apa itu? Apa coba artinya ‘dipintu‘?

Coba pikir, apa artinya kata ‘dipintu‘? Ada ga di salah satu yang gw sebutin di bawah ini:

  1. Dibikin jadi pintu?
  2. Dipukul pake pintu?
  3. Diberi pintu?
  4. Dikenakan pintu?
  5. Dengan dalam menuju? (dipintu <– dip intu <– deep into) 😛
  6. Makan pintu? udah ga nyambung nih emang, maklum udah mau jam makan siang hehehe
  7. Tidak sengaja jadi pintu?
  8. Nasi padang pake paru? ok ok gw ngaku udah laper banget deh, hiks…

Ga ada kan? karena memang itu bukan kata kerja. Ok gw ambil contoh di Bahasa Inggris aja. Pintu itu door. Dipintu == Doored. Emang ada doored? Ga ada kan? Ya memang, karena itu tuh sebenernya salah nulis. Harusnya kan ‘di pintu‘ alias ‘on the door‘ kalo dalam Bahasa Inggris.

Ini kayaknya kecil banget yak masalahnya, cuma beda sebuah spasi doank. Tapi fatal bung! Sama fatalnya kayak dokter yang menangani ibu hamil yang mau melahirkan dengan sedot vakum, jarak kedua alat ‘anu‘ itu kan ga terlalu jauh, tapi bayangkan apa jadinya kalo tu dokter malah nyedot dari ‘anu‘ yang pake S, apa yang kesedot? Bayikah? Yakin nih bayi? OK, kalo lo ngotot tetep bayi yang keluar, Selamat Anda telah mengadopsi seorang anak bernama Tinjani Puspitaisari!

Gw juga pernah lihat kesalahan ini di sebuah bill board iklan sebuah produk GSM. Iklan lainnya juga banyak. Biasanya kesalahannya kalo ga kata depan ‘di‘, atau kata depan ‘ke‘.

Come on guys, ‘di‘ dan ‘ke‘ sebagai kata depan, biasanya berpadanan dengan kata benda, itu ditulis dengan terpisah. Misalnya: ‘di pintu‘, ‘di antara‘, ‘ke kanan‘, dan ‘ke kamar‘.

Bedakan dengan imbuhan ‘di-‘ dan ‘ke-‘ yang biasanya berpadanan dengan kata kerja, dan sudah selayaknya seperti imbuhan lain, ditulis menyatu dengan kata dasarnya. Misalnya: ‘dipukul‘, ‘digoda‘, ‘ketahuan‘ (judul lagu siapa cobaaaa?), dan ‘kelihatan‘.

Walaupun memang ada yang masih membingungkan, misalnya kata ‘keluar‘. Kalo menurut gw, ini tergantung penggunaannya dalam kalimat, apakah sebagai kata kerja, atau kata keterangan. Misalnya gini:

  1. Si Otong keluar dari perguruan silat Babi Bunting Bersaudara,
  2. Si Mamat beranjak menuju ke luar ruangan.

Pada kalimat no. 1, kata ‘keluar‘ berfungsi sebagai kata kerja, sehingga ‘ke-‘ menjadi imbuhan dan ditulis menyatu. Sementara pada kalimat no. 2, kata ‘ke‘ berfungsi sebagai kata depan yang menunjukkan keterangan tempat.

Do i make it clear to you guys?

Atau harus gw bikin lebih banyak contohnya dalam penggunaannya pada kalimat? OK deh, nih gw tulisin:

  1. Dilarang bersandar di pintu otomatis,
  2. Dilarang berdiri di samping baling-baling pesawat terbang,
  3. Dilarang protes kalau tidak mau digebuk,
  4. Cinta dilarang pergi kuliah ke luar negeri karena takut jadi aib,
  5. Keputusan itu sudah bulat.

Sudah mengerti?

Belum juga? Waduh!!!

Kalo beneran belum ngerti, saya sarankan Anda menabung banyak-banyak dari sekarang, jadi bisa kuliah di Australia biar Bahasa Indonesianya jadi makin bagus, plus sekelas ama Cinta Laura. Yang pasti, di Australia walaupun ujan ga becyek, kalo ojyek mah emang ga ada dari dulunya… Hehe 😛

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Mei 2008 in Review

 

Something Else

Hehe ni lagunya Good Charlotte yang menurut gw lucu, tapi NGENA…

Recommended dah ni lagu 😀

Good Charlotte – Something Else

She is a diamond, I am a stone
I come from nowhere, she’s been to Rome
Her daddy’s a lawyer, and mines not around
She has good manners, I’m rough all around

But you could come from something; you could come from nothing
You could be a princess; you could be a working man
But in the end…

We all want something else (We all want something else)
We all want something we can’t have
We all want something else (We all want something else)
We all want something strange to us
Maybe a roll in the dirt, maybe a seat in first class:
We all want something we can’t have.

She wants to go to restaurants in Beverly Hills and people stare
But I don’t care it’s just what she grew up around.
She drags me to parties where people ask me where I went to college;
She knows damn well I barely finished school.
She knows a lot about yearly salaries and trust funds and dividends;
She knows that I don’t really care at all
But we got together, and it’s workin ok

But you could come from something; you could come from nothing
You could be a princess; you could be a working man
But in the end…

We all want something else (We all want something else)
We all want something we can’t have
We all want something else (We all want something else)
We all want something strange to us
Maybe a roll in the dirt, maybe a seat in first class:
We all want something we can’t have.

Well you can spend your whole life looking for something, something that might be
Right in front of your eyes, but you’ll be looking for something else you’ll never find

We all want something else (We all want something else)
We all want something we can’t have
We all want something else (We all want something else)
We all want something strange to us
We all want something else (We all want something else)
We all want something we can’t have
We all want something else (We all want something else)
We all want something strange to us
Maybe a roll in the dirt, maybe a seat in first class:
We all want something we can’t have.

~rada kesindir nih gw wakakakak

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Februari 2008 in Review

 

Blind

Hehe, nih lirik lagu favorit gw beberapa saat lalu. Cocok banggetz buat kaum-kaum teraniaya kek gw 😀

Ada yang mau mp3 atau vidklipnya? request ajah ok!

Lifehouse – Blind

I was young but I wasn’t naive
I watched helpless
As you turned around to leave
And still I have the pain I have to carry
A past so deep
That even you could not bury if you tried

After all this time
I never thought we’d be here
never thought we’d be here
when my love for you was blind
But I couldn’t make you see it
Couldn’t make you see it
That I loved you more
Than you’ll ever know
And part of me died
When I let you go

I would fall asleep
Only in hopes of dreaming
That everything
Would be like it was before
But nights like this
It seems are slowly fleeting
They disappear as reality is crashing to the floor

After all this time
I never thought we’d be here
never thought we’d be here
when my love for you was blind
But I couldn’t make you see it
Couldn’t make you see it
That I loved you more
Than you’ll ever know
And part of me died
When I let you go

After all this why
Would you ever wanna leave
Maybe you could not believe it
That my love for you was blind
But I couldn’t make you see it
Couldn’t make you see it
That I loved you more
Than you will ever know
And part of me died
When I let you go
That I loved you more
Than you will ever know
And part of me died
When I let you go

~hehe, but a bright light is about to come when i reach the other end of this dark tunnel… i hope…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Februari 2008 in Review

 

Wanita…

Semalem, gw masih di kantor pusatnya PT Bentoel Prima di Jalan Raya Singosari-Karanglo, Malang, sampe sekitar jam 8-an. Itu juga balik gara-gara tiba-tiba salah seorang GM-nya Bentoel, dateng ke ruangan gw, dan dengan lantang berkata, “Kita ke Matos!”

Yess! Gw yang emang udah selangkah lagi menuju ‘ngambek bin ngamuk’ gara-gara rencana dari malem kemaren buat jalan ke Matos ga jadi-jadi, langsung semangat untuk… mengakhiri bekerja dan langsung matiin kompi…

WHUZZZZ… Duduk di kursi paling belakang CRV-nya Pak GM, kita langsung ngebut menuju Matos. Tak lupa security-security-nya Bentoel ngasih hormat, ke Pak GM lah, bukan ke gw… Nyampe Matos jam setengah sembilanan, muter-muter nyari parkiran, dapet di lantai 4… Pak GM pergi ke Gramedia, dan gw ma anak-anak keliling-keliling dul, cuci mata, liat-liat ini-itu, sampe ketemu Akang Julio Lopez yang lagi ngafe, dan disentil-sentil ama cewek ganjen yang ada di meja sebelahnya. Hih, dasar cewek… Ga bisa liat orang asing, ganteng dikit, bertato, berduit banyak, langsung centil…

Akhirnya kita ke foodcourt-nya Matos, seperti biasa mesen Cui Mie… Karena kalo mesen ini emang suka lama, secara tu counter yang paling laku, so gw memutuskan untuk masuk ke Matahari, nyari celana pendek atau kolor…

Karena langsung dari kantor, jadi gw masih berpakaian rapi (pakaian yg bikin gw ga pede buat jalan di mall kayak gini), celana bahan hitam, kemeja tangan panjang putih dengan motif garis vertikal kecil membentuk gradien emas, sepatu kets Edward Forrer cuih. Gw masuk, ngacak2 kolor yang lagi diskon, Nevada cuy! Eh, ada temen nelpon, memanfaatkan Simpati PeDe…

Abis bayar (yang mana ga bisa gesek), gw jalan muter nyari pintu keluar, terus lewat counter kosmetik, beuh cakep-cakep pramuniaganya… Lho koq mereka senyum ama gw, ya udah gw senyumin lagi… Bahkan pas gw lewat, salah satunya bisik-bisik ma temennya sambil nunjuk gw, “Iki…. Iki….” Boso Jowo yang artinya Ini… Karena ga mungkin mereka nyangka gw Rizky Hanggono, sampe mereka manggil-manggil gw Iki…

Tarohlah gw ke-GR-an… tapi kejadian kayak gitu ga bakal terjadi kalo gw ke sono akhir pekan dengan melepas keformalan di diri gw, gw yang biasa pake sendal jepit, jeans sobek, oblong putih, dan jaket sport… Pasti ga bakal disenyumin ampe ditunjuk-tunjuk kaya begitu…

Sekali lagi, Hih, dasar cewek… Ga bisa liat orang kantoran, ganteng banget, gak bertato, (keliatannya) berduit banyak, langsung centil…

HAHAHA…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Desember 2007 in Review

 

HEBOHS: The Unimportant Heroes

Iseng banget di kantor bikin ginian:

COMING SOON… The Most Unimportant Story To Be Waiting For In This Year End:

The Unimportant Heroes

Guys and gals… (But surely and extremely no to gays!!!)

Tunggu release ceritanya yah…

Hope to be completed soon, coz not for so long again, i’ll be on my work trip to The Poor City (Kota Malang)… Wish Me Luck, Wismilak… Eh salah bo… Gw mau ke Bentoel ding, Wismilak mah saingannya dunk hehehe…

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Oktober 2007 in Review

 

Spoiler: Bukan Meteor Garden! (2)

Hari Minggu ini tidak seperti hari Minggu biasanya, SMA Negeri 1 Bintang Selatan terlihat tetap sibuk, semua siswa kelas 2 datang, walaupun tidak lagi berbalutkan seragam kebanggaan mereka yang lusuh hasil korupsi beberapa oknum guru pada proyek pengadaan kain seragam sekolah. Sebagai informasi, kasus ini terkuak akibat laporan Darmawan yang mendapati pada kain seragam yang diterimanya terdapat tulisan Segitiga Biru. Waktu Asep memberitahunya bahwa itu adalah kain karung terigu, Darmawan pun ingin menukarnya dengan kain yang bertuliskan Cakra Kembar saja. Imbisil!

Penampilan para siswa yang berbusana informal itu membuat mereka kurang dapat mengenali satu sama lain. Kebanyakan mereka tampak jauh lebih dewasa dengan pakaian yang gaul dan modis, kecuali beberapa siswa yang dicurigai mengalami keterbelakangan mental sehingga pada momen seperti ini, mereka malah mengenakan pakaian yang sangat tidak pantas.

Tapi para siswa yang aneh tersebut tidak minder, mereka menganggap masih ada siswa lain yang berpenampilan lebih norak dan ancur, seperti yang diperagakan oleh Darmawan. Dia tampak sangat gagah bin ancur dengan mengenakan kostum pahlawan pembela kebenaran kesukaannya yang sangat dia banggakan, pahlawan tangguh kenamaan yang banyak diidolakan kaum lelaki di SD Inpres dekat rumahnya, Power Ranger.

“Lo pake baju apa Yoong?” tanya Asep.

“Ranger pink dunk, idola gue nih!” Darmawan menjawab penuh percaya diri, dalam pikirannya pasti siswa lain akan iri melihatnya. Hal ini memang terjadi saat Darmawan lewat di depan SD Inpres saat berangkat menuju sekolahnya.

“Aneh banget sih lo!” hardik Slamet.

“Iya aneh lo, gokil!” Risno menambahi.

“Wah salah kostum yah gue? Tau gini tadi gue pake kostum idola gue yang lain.” Darmawan tampak sedih akan komentar teman-temannya.

“Kostum apa?” Risno, Slamet, dan Asep kompak bertanya.

“Xena!” jawab Darmawan dengan senyum lebarnya itu.

Suasana hening, tak tampak lagi empat sahabat yang tadi bercakap-cakap itu. Yang tersisa hanyalah Darmawan, dia baru saja berhasil mengeluarkan dirinya dari tong sampah sehabis ketiga temannya berhasil memasukkan dirinya ke sana.

“Anjrit!”

Sebuah ekspresi keterkejutan yang kurang pantas ini meluncur bersama saliva yang memuncrat dari mulut Darmawan. Nampak di hadapan matanya seorang wanita teman sekelasnya yang selama ini dia taksir. Darmawan memperhatikan penampilan gebetannya itu. Pamela, nama gadis itu, mengenakan kaos kuning ketat dan celana jeans ngatung yang memperlihatkan betapa betisnya masih jauh kalah berisi dibandingkan tombak buat lempar lembing.

Namun hal ini tidak menyurutkan kekaguman Darmawan kepadanya.

“Hai Pam, kamu cantik banget yah hari ini.”

“Kenapa, mau minjem duit lagi?”

Sebuah jawaban yang benar-benar menohok harga diri Darmawan sebagai seorang lelaki, sebuah harga diri yang ia obral ketika seminggu yang lalu dia bertemu Pamela di depan sebuah WC Umum. Darmawan mengatakan kalimat yang sama persis, kalimat yang sempat menghipnotis Pamela sehingga mau-mau saja menyisihkan sebagian hartanya kepada dhuafa seperti Darmawan ini. Darmawan tak sedikitpun mempedulikan betapa harga dirinya menurun drastis seperti harga ayam yang anjlok karena isu flu burung. Baginya ritual sakral yang harus dilakukannya di atas kloset yang bermerek sama dengan nama ibunya, Ina, jauh lebih urgent.

“Nggak, hari ini gue jujur koq, suwer!ujar Darmawan berusaha memecah kegagapannya.

“Oh, jadi yang dulu itu bohong ya?”

Pertanyaan Pamela ini seakan membawa memori Darmawan ke tempat kejadian perkara alias TKP kembali. Saat itu Pamela terlihat pucat ketika Darmawan meminjam uangnya. Pamela hanya memberi sedikit karena dia bilang butuh membeli Oralit di apotek, yang menurut perkiraan Darmawan hingga saat ini Oralit itu adalah nama kosmetik terkenal yang pernah dilihatnya di televisi. Waktu itu Darmawan tidak ambil pusing, toh uangnya cukup untuk bayar WC. Bahkan ketika masuk ke WC dan mendapati di dalam WC tersebut masih menggenang cairan coklat kekuningan, Darmawan hanya mengumpat orang yang menggunakan WC itu sebelum dirinya, tanpa jelas siapa orang yang dia maksud.

Seakan tersadar akan fakta yang dia temukan, Darmawan menjawab pertanyaan Pamela dengan sebuah pertanyaan lagi.

“Oh, jadi Oralit itu obat mencret yah?”

Sebuah pertanyaan yang hanya akan dilontarkan siswa yang pernah dua kali tidak naik kelas di SLB seperti ini sama sekali tidak membantu mengakrabkan suasana. Beruntung bel tanda psikotest akan dimulai menghindarkan mereka berdua dari saling membuka aib lebih dalam lagi.

“Udah yah, gue mau masuk!” ucap Pamela mengakhiri perbincangan.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Oktober 2007 in Review

 

Tag: ,