RSS

Arsip Bulanan: Mei 2010

Malulah teman, malulah…

Setelah melihat notes beliau hari ini, entah kenapa seperti ada semangat yang merasuki gw untuk menulis lagi. Hidup buat gw belakangan ini terlalu datar, kadang seperti kehilangan arti dan tujuannya. Sampai akhirnya gw membaca notes beliau tentang hidup, tentang pensyukuran, dan tentang berbagi nilai kepada sesama.

Belakangan ini, gw lagi dalam program mengurangi keluhan yang keluar dari mulut gw, dan juga dari akun-akun messenger dan social networking gw. Rasanya ada sebuah perjuangan ketika melawan keinginan hati memanjakan kemellowan diri ini melalui status Facebook atau tweets gw, dan it feels so good when i can do it. Sama beratnya seperti ketika melawan jari yang ingin berkeluh kesah di layar yahoo messenger, tapi jelas gw melihat progress besar dalam hal ini.

Kalau dipikir, manusia memang tak pernah puas dengan keadaannya, salah satu contoh paling nyata dari diri gw, gw ga puas ketika melihat brosur-brosur KPR perumahan di daerah Depok, dan mendapati harganya menggila, bahkan tabungan gw selama gw kerja aja baru cukup buat uang mukanya tok.

Tapi, ada satu cerita nyata, sudah agak usang memang, but always keeps me on the earth, when i feel like i’m trapped between clouds and the seas. Yang selalu bisa meneduhkan mata ini, saat pandangan gw mulai selalu tertuju pada gemerlap dan kilau kemewahan isi dunia. Semoga bisa jadi bahan buat kita berbagi nilai.

Pada suatu ketika, sekitar 5 tahun yang lalu… Saat itu gw lagi mudik ke rumah, dan kebetulan nyokap ngajak gw besuk salah satu saudara jauh yang dirujuk ke rumah sakit. Saudara jauh gw ini cowok, umurnya waktu itu mungkin sekitar 25 tahunan. Dia sejak kecil memang punya penyakit lemah jantung, ga bisa kaget atau sedih yang terlalu, pasti kondisinya drop, sama seperti saat gw besuk itu.

Iseng, gw dengerin cerita nyokapnya sodara gw ini, dia biasa gw panggil Uwa. Uwa bercerita mengenai kronologis kejadian yang membuat anaknya sakit itu. Semua berawal dari tugas rutin bulanan sang anak, yaitu pergi membayar tagihan listrik rumahnya. FYI, rumahnya sangat sederhana, terbuat dari setengah tembok dan setengah bilik bambu, lantai dipelur sederhana, tak ada balutan karpet di sana, padahal pada ketinggian daerahnya, suhu di sana relatif sangat dingin. Kamarnya yang asli hanya ada satu, satu kamar lagi hanyalah ruangan yang dibelakangi lemari yang menghadap ke ruang tamu sederhana, tempat dia menerima gw sekeluarga tiap kali gw berkunjung ke sana.

Kembali ke cerita, pada bulan tersebut, tagihan listrik rumahnya menurut Uwa sedikit membengkak, lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Oleh sebab itulah, dia bertanya kepada anaknya, koq bisa semahal itu. Sebuah pertanyaan yang pada akhirnya disesali Uwa. Tak tahan dengan rasa bersalah atas pertanyaan Uwa, sang anak bersedih, berdiam diri dan merenung, hingga akhirnya jatuh sakit, hingga puskesmas kecamatan saat itu tak sanggup menanganinya, dan merujuk dia ke rumah sakit di kabupaten.

Sepertinya tak ada yang aneh memang, sama sekali semua cerita ini masuk akal dan alurnya begitu logis. Sampai ketika, Uwa akhirnya menyebutkan nominal tagihan listrik rumahnya bulan tersebut senilai Rp 24.000,- (DUA PULUH EMPAT RIBU RUPIAH), dari yang biasanya hanya Rp 20.000,- (DUA PULUH RIBU RUPIAH).

Ya Allah… Selisih uang sejumlah 4 (EMPAT) ribu Rupiah saja begitu berarti bagi mereka, padahal itu untuk biaya yang dikeluarkan sebulan sekali. Saat itu gw masih mahasiswa, punya pacar anak orang berada, setiap hari bawa mobil, dan hampir setiap akhir pekan menghabiskan minimal seratus ribuan hanya untuk acara makan siang bersama.

Seratus ribu, untuk ukuran 5 tahun yang lalu tentunya beda dengan ukuran sekarang, saat itu jika gw makan di kantin asrama, sekali makan itu habis sekitar 3-5 ribu rupiah.

Seratus ribu, untuk ukuran Uwa, bisa membayar tagihan listrik rumahnya selama 4 bulan, atau bahkan 5 bulan jika sedang hemat.

Gw malu sama Uwa dan anaknya, buat mereka selisih 4 (EMPAT) ribu Rupiah dalam satu bulan itu sangat berarti, hingga sang anak merasa begitu bersalah saat ibunya menanyakan kenapa bisa tagihannya naik sebesar 4 (EMPAT) ribu Rupiah.

Uwa ini adalah seorang nenek tua, yang setiap harinya masuk hutan dan gunung, berjala berpuluh-puluh kilometer, untuk mencari rumput gratis untuk pakan ternaknya, ternak-ternak yang menopang hidupnya, ternak yang pernah dia berikan ke nyokap gw buat hewan kurban gw saat masih kecil, dan dia tolak uang pembeliannya. Sungguh mulia dia, berbagi dalam kekurangannya.

Temans, mari kita sedikit menyimpulkan dari cerita ini. Bisa bayangkan apa arti uang empat ribu rupiah buat kita? Dalam sebulan… Apa kita bakal sedih kehilangan uang empat ribu rupiah sekali dalam SEBULAN??? Mungkin tidak… Sekarang coba tanyakan arti uang empat ribu rupiah kepada para penumpang kereta ekonomi yang setiap pagi dan sore berdesak-desakan ga karuan, uang sebanyak itu bisa mengantarkan mereka mencari rezeki setiap harinya, hingga pulang kembali ke rumah mereka…

Satu nilai kita pelajari hari ini, apa yang sepele buat kita, mungkin bisa jadi sangat berati buat saudara kita. Malulah teman untuk bergaya hidup berlebihan… Cobalah ingat saudara kita yang masih kekurangan… Lebih baik berbagi, daripada berlebihan…

berbagilah

berbagilah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Mei 2010 in Berbagi Nilai