RSS

Arsip Bulanan: Mei 2008

Penulisan Kata Depan dalam Bahasa Indonesia Masih Banyak yang Salah

Jangan salah sangka dulu, gw ga lagi mau nulis atau bahas tentang Bahasa Indonesia yang dipake sama Cinta Laura — yang memang dia akui masih sangat kurang, sampe merasa perlu kuliah di Australia buat memperbaikinya. Sarap!

Gw terinspirasi buat menulis ini, karena hal ini memang sudah sering sebenernya gw temuin. Tapi sebelumnya, i need to make a confession, gw mengakui, bahkan penulisan post ini tidak dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi bukan itu yang lagi pengen gw bahas. Gw cuma lagi pengen bahas soal aturan penggunaan kata depan dan imbuhan, khususnya untuk kata depan ‘di‘ dan imbuhan ‘di-‘.

Trigger utamanya adalah saat tadi pagi gw seperti biasa menaiki KRL Ekonomi AC Depok – Tanah Abang guna menuju kantor. Di setiap pintu terdapat stiker yang bertuliskan ‘Dilarang bersandar dipintu automatic‘. Bukan, bukan soal pencampuran antara penggunaan Bahasa Indonesia dengan sebuah kata dari Bahasa Inggris yang gw permasalahkan. Hal seperti itu lumrah buat gw — meskipun sebenernya udah ada kata serapannya, automatic –> otomatis. Tapi perhatikan kata ‘dipintu‘. Apa itu? Apa coba artinya ‘dipintu‘?

Coba pikir, apa artinya kata ‘dipintu‘? Ada ga di salah satu yang gw sebutin di bawah ini:

  1. Dibikin jadi pintu?
  2. Dipukul pake pintu?
  3. Diberi pintu?
  4. Dikenakan pintu?
  5. Dengan dalam menuju? (dipintu <– dip intu <– deep into) 😛
  6. Makan pintu? udah ga nyambung nih emang, maklum udah mau jam makan siang hehehe
  7. Tidak sengaja jadi pintu?
  8. Nasi padang pake paru? ok ok gw ngaku udah laper banget deh, hiks…

Ga ada kan? karena memang itu bukan kata kerja. Ok gw ambil contoh di Bahasa Inggris aja. Pintu itu door. Dipintu == Doored. Emang ada doored? Ga ada kan? Ya memang, karena itu tuh sebenernya salah nulis. Harusnya kan ‘di pintu‘ alias ‘on the door‘ kalo dalam Bahasa Inggris.

Ini kayaknya kecil banget yak masalahnya, cuma beda sebuah spasi doank. Tapi fatal bung! Sama fatalnya kayak dokter yang menangani ibu hamil yang mau melahirkan dengan sedot vakum, jarak kedua alat ‘anu‘ itu kan ga terlalu jauh, tapi bayangkan apa jadinya kalo tu dokter malah nyedot dari ‘anu‘ yang pake S, apa yang kesedot? Bayikah? Yakin nih bayi? OK, kalo lo ngotot tetep bayi yang keluar, Selamat Anda telah mengadopsi seorang anak bernama Tinjani Puspitaisari!

Gw juga pernah lihat kesalahan ini di sebuah bill board iklan sebuah produk GSM. Iklan lainnya juga banyak. Biasanya kesalahannya kalo ga kata depan ‘di‘, atau kata depan ‘ke‘.

Come on guys, ‘di‘ dan ‘ke‘ sebagai kata depan, biasanya berpadanan dengan kata benda, itu ditulis dengan terpisah. Misalnya: ‘di pintu‘, ‘di antara‘, ‘ke kanan‘, dan ‘ke kamar‘.

Bedakan dengan imbuhan ‘di-‘ dan ‘ke-‘ yang biasanya berpadanan dengan kata kerja, dan sudah selayaknya seperti imbuhan lain, ditulis menyatu dengan kata dasarnya. Misalnya: ‘dipukul‘, ‘digoda‘, ‘ketahuan‘ (judul lagu siapa cobaaaa?), dan ‘kelihatan‘.

Walaupun memang ada yang masih membingungkan, misalnya kata ‘keluar‘. Kalo menurut gw, ini tergantung penggunaannya dalam kalimat, apakah sebagai kata kerja, atau kata keterangan. Misalnya gini:

  1. Si Otong keluar dari perguruan silat Babi Bunting Bersaudara,
  2. Si Mamat beranjak menuju ke luar ruangan.

Pada kalimat no. 1, kata ‘keluar‘ berfungsi sebagai kata kerja, sehingga ‘ke-‘ menjadi imbuhan dan ditulis menyatu. Sementara pada kalimat no. 2, kata ‘ke‘ berfungsi sebagai kata depan yang menunjukkan keterangan tempat.

Do i make it clear to you guys?

Atau harus gw bikin lebih banyak contohnya dalam penggunaannya pada kalimat? OK deh, nih gw tulisin:

  1. Dilarang bersandar di pintu otomatis,
  2. Dilarang berdiri di samping baling-baling pesawat terbang,
  3. Dilarang protes kalau tidak mau digebuk,
  4. Cinta dilarang pergi kuliah ke luar negeri karena takut jadi aib,
  5. Keputusan itu sudah bulat.

Sudah mengerti?

Belum juga? Waduh!!!

Kalo beneran belum ngerti, saya sarankan Anda menabung banyak-banyak dari sekarang, jadi bisa kuliah di Australia biar Bahasa Indonesianya jadi makin bagus, plus sekelas ama Cinta Laura. Yang pasti, di Australia walaupun ujan ga becyek, kalo ojyek mah emang ga ada dari dulunya… Hehe 😛

Iklan
 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Mei 2008 in Review

 

Kenaikan Harga BBM

Gw tadi lihat di berita, pemerintah (sebutan bagi orang yang sukanya merintah-merintah, red) akan menaikkan harga BBM sebesar 30% per 1 Juni 2008 ini.

Respon gw saat denger berita itu, bengong, seperti orang yang gak percaya pas ngeliat Kangen Band abis nyalon, atau seperti orang yang terpesona ngeliat Luna Maya lewat, sebelum akhirnya muntah karena ternyata pada celananya terdapat lingkaran berwarna kuning kecoklatan yang tampaknya masih basah…

Ya, gw kaget, ga percaya… Kaya di iklan sebuah bank swasta nasional, ketika si korban (maksudnya nasabah, red) dapet hadiah undian berupa duit banyak, lalu bilang sambil menangis terharu seakan-akan abis denger berita vokalis Radja buka kacamatanya, “Aku ga percaya, hiks…”

Masih lekat dalam ingatan gw, saat-saat di mana pengumuman serupa dikumandangkan sekitar setahun atau dua tahun yang lalu, saat itu gw sedih banget, sampe-sampe besoknya gw ga sarapan karena sedih, siang ga makan siang karena sedih, malem juga ga dinner karena sedih, dan abis itu ga tidur karena GW LAPAR! Ngapain juga ga tidur karena sedih, hehehe… Iya, ketika terakhir kali BBM dinaikkan dengan persentase yang gila-gilaan, gw kena imbasnya. Saat itu gw masih mahasiswa, segala kudu gw beli dengan duit transferan nyokap tiap awal bulan. Masalah datang ketika harga makanan di sekitar kosan jadi naik, bepergian pake angkot juga harus naik (ya iyalah, klo ada angkot ya gw naik lah) dengan ongkos yang juga naik. Ga ada lagi cerita gw nge-mol dengan ongkos seribu perak lagi…

Gimana kalo sekarang naik lagi?

Ga kebayang sama gw, berapa banyak anak jalanan yang berhenti mabok bensin karena harganya naik, harga-harga gorengan naik padahal gak digoreng pake solar, koq tega sih sama rakyat sendiri Pak Sus (hayoo siapa yang nama depannya ada Sus-nya?)… Kita bayar pajak, tapi gak bisa nikmatin hasilnya Pak!

Hidup gorengan, jangan naik yah harganya!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2008 in Curhat