RSS

Spoiler: Bukan Meteor Garden! (1)

03 Okt

Karena gw bingung mau nulis apalagi di ini blog, abisnya kerjaan kantor bikin waktu gw yang tersisa cuma bisa gw manfaatin di kasur ama di mall. Akhirnya gw putuskan untuk memberi spoiler dari proyek penulisan gw. Ini ada beberapa potongan cerita dari tulisan gila yang lagi gw kerjain, hope you’ll enjot it. And All, kalo suka atau lucu, bilang-bilang yah, biar makin semanget gw ngerjainnya.

And here it goes…

Mual dengan coretan-coretan itu, Slamet kembali mengetuk pintu dan berteriak, “Woi, buruan! Lama banget sih lo!” Yang cuma mendapat balasan pendek dari makhluk yang sedang bersekresi di atas kloset dengan merek yang sama dengan nama bapaknya, Toto. “Euh, sabar…”, permintaan dari seorang yang sedang mengalami kenikmatan paling ekstrim seperti ini memang sangat menjengkelkan, dan Slamet Cuma bisa menggerutu, “Ugh…”, seperti gerutuan orang yang melihat singkong goreng miliknya yang tinggal sepotong dan sudah dibubuhi sambel pedas jatuh ketika akan disantap di depan septic tank yang menganga.

Sepuluh menit kemudian keluarlah makhluk paling menjengkelkan di muka bumi ini dari dalam satu-satunya WC sekolah yang menyediakan gayung itu. Mukanya sama sekali tidak menampakkan raut bersalah, sampai ketika terdengar celetukan seorang siswi kelas satu, “Ih itu bekas siapa ya? Koq ga disiram sih!

Mereka sampai di kelas dengan nafas terengah-engah, sehingga kalau orang hanya mendengar suaranya saja, maka akan menimbulkan fitnah yang berujung kegemparan yang maha dahsyat dan berakibat hukuman ranjam bagi si penghasil suara.

Tampak siswa-siwa lain sedang asyik menulis dua buah baris yang ada di papan tulis : “Tugas Ekonomi, catat dari buku cetak halaman 45 – 93. Senin dikumpul.”

“Wah gak rugi kita telat, jadi gurunya gak ngajar deh!” Sebuah pernyataan Darmawan yang sebenarnya sangat membahayakan kelangsungan hidup dirinya dan beresiko menimbulkan kudeta bagi sang ketua kelas.

“Plukkkk, plaaakk, plukk…” Bunyi lemparan-lemparan kertas dari seisi kelas seakan mencerminkan kekecewaan mereka terhadap sang ketua kelas yang gagal melaksanakan amanat sampai-sampai mereka mendapat teman weekend yang sangat menurunkan nafsu makan dan bercinta, tugas mencatat!

“Teeeet teeeet teeeeeeet…” Bunyi bel pulang sekolah ini sungguh menyelamatkan nasib sang ketua kelas, yang layaknya seorang pesepakbola yang mendengar peluit wasit yang menandakan berakhirnya pertandingan dengan kemenangan timnya, walaupun mengalami dua belas luka memar, tiga patah kaki, dan sepuluh buah benjol.

Semua anak pulang dengan tidak tertib, ada yang pulang naik jendela kelas yang memang mengarah ke jalan, ada yang pergi dulu mencari pacarnya di kelas lain, ada yang ke kantin, dan ada pula yang pergi ke WC lagi, Darmawan.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Oktober 2007 in Review

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: