RSS

Spoiler: Bukan Meteor Garden! (2)

03 Okt

Hari Minggu ini tidak seperti hari Minggu biasanya, SMA Negeri 1 Bintang Selatan terlihat tetap sibuk, semua siswa kelas 2 datang, walaupun tidak lagi berbalutkan seragam kebanggaan mereka yang lusuh hasil korupsi beberapa oknum guru pada proyek pengadaan kain seragam sekolah. Sebagai informasi, kasus ini terkuak akibat laporan Darmawan yang mendapati pada kain seragam yang diterimanya terdapat tulisan Segitiga Biru. Waktu Asep memberitahunya bahwa itu adalah kain karung terigu, Darmawan pun ingin menukarnya dengan kain yang bertuliskan Cakra Kembar saja. Imbisil!

Penampilan para siswa yang berbusana informal itu membuat mereka kurang dapat mengenali satu sama lain. Kebanyakan mereka tampak jauh lebih dewasa dengan pakaian yang gaul dan modis, kecuali beberapa siswa yang dicurigai mengalami keterbelakangan mental sehingga pada momen seperti ini, mereka malah mengenakan pakaian yang sangat tidak pantas.

Tapi para siswa yang aneh tersebut tidak minder, mereka menganggap masih ada siswa lain yang berpenampilan lebih norak dan ancur, seperti yang diperagakan oleh Darmawan. Dia tampak sangat gagah bin ancur dengan mengenakan kostum pahlawan pembela kebenaran kesukaannya yang sangat dia banggakan, pahlawan tangguh kenamaan yang banyak diidolakan kaum lelaki di SD Inpres dekat rumahnya, Power Ranger.

“Lo pake baju apa Yoong?” tanya Asep.

“Ranger pink dunk, idola gue nih!” Darmawan menjawab penuh percaya diri, dalam pikirannya pasti siswa lain akan iri melihatnya. Hal ini memang terjadi saat Darmawan lewat di depan SD Inpres saat berangkat menuju sekolahnya.

“Aneh banget sih lo!” hardik Slamet.

“Iya aneh lo, gokil!” Risno menambahi.

“Wah salah kostum yah gue? Tau gini tadi gue pake kostum idola gue yang lain.” Darmawan tampak sedih akan komentar teman-temannya.

“Kostum apa?” Risno, Slamet, dan Asep kompak bertanya.

“Xena!” jawab Darmawan dengan senyum lebarnya itu.

Suasana hening, tak tampak lagi empat sahabat yang tadi bercakap-cakap itu. Yang tersisa hanyalah Darmawan, dia baru saja berhasil mengeluarkan dirinya dari tong sampah sehabis ketiga temannya berhasil memasukkan dirinya ke sana.

“Anjrit!”

Sebuah ekspresi keterkejutan yang kurang pantas ini meluncur bersama saliva yang memuncrat dari mulut Darmawan. Nampak di hadapan matanya seorang wanita teman sekelasnya yang selama ini dia taksir. Darmawan memperhatikan penampilan gebetannya itu. Pamela, nama gadis itu, mengenakan kaos kuning ketat dan celana jeans ngatung yang memperlihatkan betapa betisnya masih jauh kalah berisi dibandingkan tombak buat lempar lembing.

Namun hal ini tidak menyurutkan kekaguman Darmawan kepadanya.

“Hai Pam, kamu cantik banget yah hari ini.”

“Kenapa, mau minjem duit lagi?”

Sebuah jawaban yang benar-benar menohok harga diri Darmawan sebagai seorang lelaki, sebuah harga diri yang ia obral ketika seminggu yang lalu dia bertemu Pamela di depan sebuah WC Umum. Darmawan mengatakan kalimat yang sama persis, kalimat yang sempat menghipnotis Pamela sehingga mau-mau saja menyisihkan sebagian hartanya kepada dhuafa seperti Darmawan ini. Darmawan tak sedikitpun mempedulikan betapa harga dirinya menurun drastis seperti harga ayam yang anjlok karena isu flu burung. Baginya ritual sakral yang harus dilakukannya di atas kloset yang bermerek sama dengan nama ibunya, Ina, jauh lebih urgent.

“Nggak, hari ini gue jujur koq, suwer!ujar Darmawan berusaha memecah kegagapannya.

“Oh, jadi yang dulu itu bohong ya?”

Pertanyaan Pamela ini seakan membawa memori Darmawan ke tempat kejadian perkara alias TKP kembali. Saat itu Pamela terlihat pucat ketika Darmawan meminjam uangnya. Pamela hanya memberi sedikit karena dia bilang butuh membeli Oralit di apotek, yang menurut perkiraan Darmawan hingga saat ini Oralit itu adalah nama kosmetik terkenal yang pernah dilihatnya di televisi. Waktu itu Darmawan tidak ambil pusing, toh uangnya cukup untuk bayar WC. Bahkan ketika masuk ke WC dan mendapati di dalam WC tersebut masih menggenang cairan coklat kekuningan, Darmawan hanya mengumpat orang yang menggunakan WC itu sebelum dirinya, tanpa jelas siapa orang yang dia maksud.

Seakan tersadar akan fakta yang dia temukan, Darmawan menjawab pertanyaan Pamela dengan sebuah pertanyaan lagi.

“Oh, jadi Oralit itu obat mencret yah?”

Sebuah pertanyaan yang hanya akan dilontarkan siswa yang pernah dua kali tidak naik kelas di SLB seperti ini sama sekali tidak membantu mengakrabkan suasana. Beruntung bel tanda psikotest akan dimulai menghindarkan mereka berdua dari saling membuka aib lebih dalam lagi.

“Udah yah, gue mau masuk!” ucap Pamela mengakhiri perbincangan.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Oktober 2007 in Review

 

Tag: ,

2 responses to “Spoiler: Bukan Meteor Garden! (2)

  1. bayoq

    8 Oktober 2007 at 8:23 pm

    bro,gw masi sdikit ‘terpotong2’ baca spoiler nya,banyak banget majas perluasan.
    soalnya nilai bahasa indonesia gw jlek bro.

    tp kreatif perluasan2nya.
    emang konsepnya gitu yak.

    oya utk spoiler brikutnya bisa bikin cerita diliat dr orang pertama ga?kalo bisa utk smua tokoh penceritaanya dgn orang pertama.

    oya request bikin crita romantis dong bro,ya skalian bagi2 tips geto…

    darmawan=hilmy di smu kah?hehe

     
  2. hararilmi

    9 Oktober 2007 at 7:52 am

    bukan, di situ hilmy diwakili tokoh Asep… enak aja gw tukang boker…

    cerita romantis? hemh… romantis2nya hidup seorang hilmy-nya aja baru mau mulai, sabar aja yak… hehehe

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: