RSS

Malulah teman, malulah…

Setelah melihat notes beliau hari ini, entah kenapa seperti ada semangat yang merasuki gw untuk menulis lagi. Hidup buat gw belakangan ini terlalu datar, kadang seperti kehilangan arti dan tujuannya. Sampai akhirnya gw membaca notes beliau tentang hidup, tentang pensyukuran, dan tentang berbagi nilai kepada sesama.

Belakangan ini, gw lagi dalam program mengurangi keluhan yang keluar dari mulut gw, dan juga dari akun-akun messenger dan social networking gw. Rasanya ada sebuah perjuangan ketika melawan keinginan hati memanjakan kemellowan diri ini melalui status Facebook atau tweets gw, dan it feels so good when i can do it. Sama beratnya seperti ketika melawan jari yang ingin berkeluh kesah di layar yahoo messenger, tapi jelas gw melihat progress besar dalam hal ini.

Kalau dipikir, manusia memang tak pernah puas dengan keadaannya, salah satu contoh paling nyata dari diri gw, gw ga puas ketika melihat brosur-brosur KPR perumahan di daerah Depok, dan mendapati harganya menggila, bahkan tabungan gw selama gw kerja aja baru cukup buat uang mukanya tok.

Tapi, ada satu cerita nyata, sudah agak usang memang, but always keeps me on the earth, when i feel like i’m trapped between clouds and the seas. Yang selalu bisa meneduhkan mata ini, saat pandangan gw mulai selalu tertuju pada gemerlap dan kilau kemewahan isi dunia. Semoga bisa jadi bahan buat kita berbagi nilai.

Pada suatu ketika, sekitar 5 tahun yang lalu… Saat itu gw lagi mudik ke rumah, dan kebetulan nyokap ngajak gw besuk salah satu saudara jauh yang dirujuk ke rumah sakit. Saudara jauh gw ini cowok, umurnya waktu itu mungkin sekitar 25 tahunan. Dia sejak kecil memang punya penyakit lemah jantung, ga bisa kaget atau sedih yang terlalu, pasti kondisinya drop, sama seperti saat gw besuk itu.

Iseng, gw dengerin cerita nyokapnya sodara gw ini, dia biasa gw panggil Uwa. Uwa bercerita mengenai kronologis kejadian yang membuat anaknya sakit itu. Semua berawal dari tugas rutin bulanan sang anak, yaitu pergi membayar tagihan listrik rumahnya. FYI, rumahnya sangat sederhana, terbuat dari setengah tembok dan setengah bilik bambu, lantai dipelur sederhana, tak ada balutan karpet di sana, padahal pada ketinggian daerahnya, suhu di sana relatif sangat dingin. Kamarnya yang asli hanya ada satu, satu kamar lagi hanyalah ruangan yang dibelakangi lemari yang menghadap ke ruang tamu sederhana, tempat dia menerima gw sekeluarga tiap kali gw berkunjung ke sana.

Kembali ke cerita, pada bulan tersebut, tagihan listrik rumahnya menurut Uwa sedikit membengkak, lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Oleh sebab itulah, dia bertanya kepada anaknya, koq bisa semahal itu. Sebuah pertanyaan yang pada akhirnya disesali Uwa. Tak tahan dengan rasa bersalah atas pertanyaan Uwa, sang anak bersedih, berdiam diri dan merenung, hingga akhirnya jatuh sakit, hingga puskesmas kecamatan saat itu tak sanggup menanganinya, dan merujuk dia ke rumah sakit di kabupaten.

Sepertinya tak ada yang aneh memang, sama sekali semua cerita ini masuk akal dan alurnya begitu logis. Sampai ketika, Uwa akhirnya menyebutkan nominal tagihan listrik rumahnya bulan tersebut senilai Rp 24.000,- (DUA PULUH EMPAT RIBU RUPIAH), dari yang biasanya hanya Rp 20.000,- (DUA PULUH RIBU RUPIAH).

Ya Allah… Selisih uang sejumlah 4 (EMPAT) ribu Rupiah saja begitu berarti bagi mereka, padahal itu untuk biaya yang dikeluarkan sebulan sekali. Saat itu gw masih mahasiswa, punya pacar anak orang berada, setiap hari bawa mobil, dan hampir setiap akhir pekan menghabiskan minimal seratus ribuan hanya untuk acara makan siang bersama.

Seratus ribu, untuk ukuran 5 tahun yang lalu tentunya beda dengan ukuran sekarang, saat itu jika gw makan di kantin asrama, sekali makan itu habis sekitar 3-5 ribu rupiah.

Seratus ribu, untuk ukuran Uwa, bisa membayar tagihan listrik rumahnya selama 4 bulan, atau bahkan 5 bulan jika sedang hemat.

Gw malu sama Uwa dan anaknya, buat mereka selisih 4 (EMPAT) ribu Rupiah dalam satu bulan itu sangat berarti, hingga sang anak merasa begitu bersalah saat ibunya menanyakan kenapa bisa tagihannya naik sebesar 4 (EMPAT) ribu Rupiah.

Uwa ini adalah seorang nenek tua, yang setiap harinya masuk hutan dan gunung, berjala berpuluh-puluh kilometer, untuk mencari rumput gratis untuk pakan ternaknya, ternak-ternak yang menopang hidupnya, ternak yang pernah dia berikan ke nyokap gw buat hewan kurban gw saat masih kecil, dan dia tolak uang pembeliannya. Sungguh mulia dia, berbagi dalam kekurangannya.

Temans, mari kita sedikit menyimpulkan dari cerita ini. Bisa bayangkan apa arti uang empat ribu rupiah buat kita? Dalam sebulan… Apa kita bakal sedih kehilangan uang empat ribu rupiah sekali dalam SEBULAN??? Mungkin tidak… Sekarang coba tanyakan arti uang empat ribu rupiah kepada para penumpang kereta ekonomi yang setiap pagi dan sore berdesak-desakan ga karuan, uang sebanyak itu bisa mengantarkan mereka mencari rezeki setiap harinya, hingga pulang kembali ke rumah mereka…

Satu nilai kita pelajari hari ini, apa yang sepele buat kita, mungkin bisa jadi sangat berati buat saudara kita. Malulah teman untuk bergaya hidup berlebihan… Cobalah ingat saudara kita yang masih kekurangan… Lebih baik berbagi, daripada berlebihan…

berbagilah

berbagilah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Mei 2010 in Berbagi Nilai

 

just yes or no…

please say no, if your heart is saying so
please say no, if you’re not sure about the long road in front of you
please say no, if distance matters to you
please say no, if you’re afraid of being regretful someday
please say no, if comfort ain’t there when i’m with you
please say no, if you just don’t feel it
please say no, if you think i don’t deserve it at all
please say no, if you think it just won’t work…
please say no, no, and no… when you think it’s right to…

otherwise, please say yes 🙂

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Februari 2010 in Curhat

 

Tuhan, aku mengorok di kereta…

Memalukan memang, tapi itulah yang terjadi kemarin. Dalam perjalanan pulang menggunakan si biru KRL Southline Tanah Abang – Depok, gw berhasil mendapatkan tempat duduk, keberhasilan gw ini memang tidak perlu dipertanyakan, karena gw cukup lihai mencari posisi dan mencuri start untuk naik ke dalam gerbong ketiga dari depan.

Kebetulan hari kemarin ada audit di kantor, dan para pekerja haram seperti gw, diselundupkan ke ruang karantina di lantai 18. Itu artinya gw ga bisa nyimpen laptop gw di lokernya Om Mas Bos, dan dengan sangat terpaksa –bagai disuruh untuk duduk di pangkuan lelaki setengah baya yang mengalami disorientasi seksual– gw harus membawa pulang beliau (laptop gw, bukan lelaki setengah baya itu) ke kosan… Untunglah tas sport gw ini mempunyai dedicated space buat laptop, paling tidak laptop aman lah.

Duduk di kereta, gw langsung mengantuk –tidak seperti biasanya yang harus menunggu beberapa stasiun hingga tertidur lelap. Mungkin bawaan si jabang laptop kali ya pikir gw, seolah-olah gelembung di depan perut gw itu adalah rahim cangkokan, dan bukan tas berisi laptop –halah. Dan sesaat kemudian semua menjadi gelap, ya iyalah kan gw tidur.

Dalam keadaan masih setengah sadar, gw mendengar suara babi hutan. Ya ampun, ada celeng di dalam kereta ini, gw langsung terbangun dengan kesimpulan yang gw bikin di antara tidur gw tersebut. Tetapi, gw merasa mulut gw terbuka cukup lebar, dan sadarlah gw: “Ya Tuhan, aku mengorok di kereta!!!

Dengan intelejensia gw yang masih tersisa, gw langsung memejamkan mata kembali. Yak, pura-pura tidur lagi adalah solusi yang hebat, gw pikir Socrates pun tidak pernah memikirkan solusi itu –setau gw Socrates ga pernah naek kereta tujuan Depok sih, ga tau kalo gw salah kira.

Dan akhirnya gw kembali tertidur asli, namun di dalam hati gw masih terngiang-ngiang, “Ya Tuhan, aku mengorok di kereta…”

Terbuktilah hipotesa sang pacar bahwa gw suka ngorok jika ketiduran di kursi saat ngapel… 😀

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Maret 2009 in KRL

 

Dalam Derai Djalanan

Dalam deras hujan aku mengular
Mencoba terkurung dalam rasa sabar
Bara nan merah begitu menyebar
Memupus senyum yang terpapar

Ah lelah memaksu berhenti
Berhenti menekan tuts-tuts hitam ini

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Maret 2009 in 1

 

Seperti Semua Salahku

For the sake of this restless soul
For every second it took from me
For one question i have to ask
And for an answer that seems so blurred to me

Is it really my mistake?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Februari 2009 in Nothing

 

Tag:

June?

what will be happened at June?
I am gonna say goodbye to my workmate…
But, will I say it to my company too?

Dunno, but hope so…

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Januari 2009 in Curhat

 

Jika Gw Stress dengan Pekerjaan Gw

Iseng nulis, setelah melakukan iseng mikir. Dapet deh ide iseng ini, karena cuma iseng, jadi silakan dibalas iseng, tapi jangan tulisan gw ini dianalisis secara serius, apalagi bawa-bawa pakar telematika kenamaan kita itu, percuma hehehe…

Jadi beginih…

Gw berpikir bijimana n bijisiapa, eh bagaimana kalo misalnya gw bosan dengan pekerjaan gw yang sekarang. Tentunya gw harus mencari hal lain yang menarik untuk dikerjakan dan menarik sejumlah banyak duit dari rekening orang ke rekening gw kan? Nah, kira-kira celah usaha apa yang bakalan sukses untuk dikerjakan hari gini? Gw punya ide BRILLIANT yang kalo dikerjakan akan membuat sukses datang dalam waktu dekat…

Here’s my idea:

1. Saat ini banyak bangged band baru bermunculan di tanah air dan menuai sukses. KESIMPULAN NO. 1 –> Bikin band adalah jalan yang bagus menuju sukses.

2. Kalau memutuskan bikin band, harus dipilih juga aliran musik dan segmennya. Ternyata band yang laku sekarang aliran musiknya kebanyakan berirama melayu! KESIMPULAN NO. 2 –> Gw akan bikin band yang rada mendangdut!

3. Segmen? nah untuk urusan ini gw punya ide yang sangat-sangat BRILLIANT! Segmen yang akan kita garap adalah pasar anak kecil dan balita, sejak jamannya Joshua dan kawan-kawan, kayaknya sampe sekarang ini sangat jarang tuh perusahaan rekaman ngeluarin album anak-anak. KESIMPULAN No. 3 –> Segmen musik untuk anak-anak akan gw garap.

4. Realisasi (dalam mimpi):
Usaha band yang gw rintis ini nantinya akan sukses besar, karena anak kecil belum ngarti beli bajakan. Sekalian aja gw tambahin promo, kalo beli album asli dapat hadiah mainan, kayak jualan sepatu anak-anak yang berhadiah mainan, eh apa jualan mainan berhadiah sepatu anak-anak ya?

Selain penjualan album yang laris manis, penghasilan juga bakal gw dapat dari provider2 telekomunikasi, karena lagu-lagu gw pasti bakal laris juga didownload sebagai ringtone, atau dipake buat ringback tone.

Ini nih bagian yang paling penting n gw suka:

Bahkan, provider tukang odong-odong harus bayar royalti ke gw kalo mereka mau nyetel lagunya di setiap odong-odong operasional mereka…

Dan kemudian… lagu-lagu gw bakal berkibar di seluruh penjuru negeri, di televisi, di stasiun kereta (di tukang VCD bajakan), di bus-bus (ringtone hp-nya orang2), TERUTAMA di kampung-kampung lewat para laskar tukang odong-odong…

I love odong-odong 😀

Kenapa? ada yang heran dengan rencana gw? tolong dibaca lagi deh judul postingan ini huehehe

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Desember 2008 in Review